Mencari Mangsa
Melihat warga bubar, Ijal spontan berseru, “Mereka tidak jadi ke pohon tua!”
“Ayo kita ikuti mereka,” sambung Jarwo.
Trimo mengangguk dan langsung naik ke tegalan. Namun karena undakan licin, tubuhnya terpelanting, masuk ke sawah yang baru dipanen. Sarung yang sudah kotor karena tadi dipakai untuk berbaring di pematang kini basah dan penuh lumpur.
“Tolong!” teriak Trimo.
Ijal dan Jarwo buru-buru turun kembali ke pematang. Mereka mengulurkan tangan untuk membantu Trimo keluar dari lumpur. Setelah berhasil, mereka buru-buru naik ke kebun yang berada di atas sawah.
“Aku pulang dulu,” kata Trimo. “Mau mandi dan ganti baju,” sambungnya.
Ijal dan Jarwo mengangguk tanpa bersuara. Di tengah kegelapan, mereka berpisah; Trimo langsung pulang sementara Ijal dan Jarwo mengikuti rombongan menuju rumah Pakde Karjo.
“Ada apa?” bisik Jarwo ketika dilihatnya orang-orang berlarian tanpa arah. Ijal tidak menjawab, namun justru berlari ke rumah Pakde Karjo. Jarwo langsung mengikutinya. Setelah sampai di rumah Pakde Karjo, barulmereka mengetahui apa yang terjadi. Istri Pakde Karjo tengah menangis histeris sambil memeluk jasad suaminya yang masih berlumuran darah.
“Lik Parman mengamuk. Dia membunuh Pakde Karjo!” cerita anak kecil yang ditanya Ijal.
“Membunuh pakai apa?”
“Golok!”
Ijal dan Jarwo saling melempar tatapan. “Bawor benar-benar bekas preman,” bisik Ijal.
“Bukannya sudah jadi arwah, masa masih jahat?”
Ijal mengangkat bahu. Ia hampir tertabrak orang-orang yang berlarian.
“Mungkin sembunyi di kandang!” teriak seseorang. Spontan semua orang berlari ke kandang. Namun sejurus kemudian kembali ke halaman depan tanpa Parman.
“KIta harus menemukan Parman!”
“Betul,” dukung temannya. “Dia sangat berbahaya karena memegang golok!”
“Aku masih bingung mengapa orang kesurupan bisa mengamuk seperti itu.”
“Sudah jangan dipikirkan! Sekarang yang penting cari Parman. Jangan sampai dia membunuh lagi!”
“Ke mana mencarinya?” tanya yang lain.
“Ya cari ke semua tempat. Kalau sudah tahu dimana dia bersembunyi, tidak usah kita cari lagi. Langsung saja kita bunuh!” sahut temannya dengan nada tinggi.
Meski masih terdengar beberapa celetukan dan teriakan, namun mereka segera berpencar dan membentuk beberapa kelompok. Masing-masing kelompok mengambil arah berbeda. Mereka menjelajah setiap semak dan juga kebun. Hingga malam mendekati kulminasi, Parman belum juga ditemukan.
Namun warga belum menyerah. Mereka terus bergerak ke segala arah secara bergerombol. Terlebih ketika memasuki wilayah yang dianggap angker seperti tepian sungai, terutama yang berada di bawah rumpun bambu.
“Siapa itu?” tanya Diman ketika tiba-tiba daun bambu di depannya bergerak. Dadanya langsung berdesir. Meski tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, namun Manto ikut menahan langkah.
“Siapa?!” ulang Diman dengan suara meninggi.
“Tidak ada siapa-siapa, Kang!” kata seseorang di belakang Diman. “Daun bambu itu bergerak karena tertiup angin.”
“Jangan sok tahu!” sentak Diman. “Gara-gara permainan jelangkung, sekarang banyak muncul arwah gentayangan!”
“Jangan nakut-nakuti, Kang, “
“Aku ngomong yang sebenarnya. Kita harus waspada!”
Omongan Diman membuat orang-orang yang sudah ketakutan bergerak menjauh. Manto tampak bimbang. Namun kemudian memilih ikut meninggalkan gerumbul bambu.
Melihat aksi mereka, Diman tidak punya pilihan lain. Sendirian di tengah situasi begini bukan pilihan cerdas, pikirnya. Tanpa menghiraukan rasa penasaran yang belum terjawab, Diman berbalik. Namun usahanya berakhir tragis. Kakinya tersangkut akar bambu yang menonjoll. Tubuh Diman tersungkur. Wajahnya penuh daun-daun bambu yang sudah kering.
Namun penderitaannya belum berakhir. Ketika hendak berdiri, telapak tangan kirinya seperti tertindih sesuatu. Seketika Diman menyesal tidak membawa senter. Ia mendongak dan hasilnya sungguh menyedihkan. Terdengar lolongan menyayat ketika pandangan matanya menumbur wajah Parman.
“Tolong ...! Ampuni aku! Tolong ..!”
Parman tidak memberi kesempatan Diman merancau. Dia menghentikan teriakan tetangganya itu dengan satu sabetan golok di bagian leher.